SEJARAH KALURAHAN NGLEGI

29 Juli 2013 16:46:44 WIB

SEJARAH KALURAHAN NGLEGI

Nglegi adalah sebuah kelurahan yang secara administrative masuk di Kecamatan Patuk di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan jumlah penduduk 3.202 jiwa yang terdiri dari 1.569 jiwa Laki-laki dan 1.633 jiwa Perempuan. Wilayah Desa Nglegi adalah 10.504.805 ha yang terdiri dari 9 padukuhan yaitu Nglegi, Nglampar, Kembang, Trukan, Klepu, Gedoro, Glagah, Padangan dan Karang.1 Kelurahan Nglegi memiliki historis yang panjang dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Dengan adanya perkembangan dan pertumbuhan yang panjang perlu dilakukan penulisan narasi sejarah Desa Nglegi.

Guna sejarah menurut Kuntowijaya memiliki beberapa manfaat seperti pendidikan moral, pendidikan penalaran, pendidikan politik, pendidikan kebijakan, perubahan, masa depan, keindahan, ilmu bantu dan lainnya.2 Dalam hal ini penulisan narasi sejarah memberikan manfaat bagi perkembangan desa sebagai memperkuat identitas desa, sebagai pedoman mengembangkan kebijakan. Penulisan narasi sejarah perlu dilakukan secara popular maupun secara akademis. Dari rumusan masalah kemudian akan dilakukan penelitian tentang penulisan narasi sejarah Desa Nglegi. Dalam penelitian yang akan dilakukan dapat terarah dengan baik maka perlu diambil pembatasan baik temporal maupun Spasial. Untuk kepentingan analisa pembabakan waktu yang longgar dengan mengambil abad ke 19 hingga 2021 sebagai masa peralihan, artinya periode sebelumnya dengan melihat data-data yang tersedia diasumsikan belum terjadi perubahan secara besar-besaran. Kemudian periode sesudah tahun tersebut terasa perubahan yang berarti dan tampak perubahan dan perkembangan.3 Namun demikian, batas waktu abad ke 19 hingga 2021 harus disepakati tidak merupakan batasan waktu yang kaku, karena perkembangan atau perubahan itu di mulai dan berakhir. Sekalipun tidak dinyatakan

 
   

 

1 Monografi Desa Nglegi, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, 2021.

2 Kuntowijaya. Pengantar ilmu sejarah ( Yogyakarta : Tiara Wacan, 2013), hlm. 27

3 Maehmoed Effendhie. “Peluang kerja Dan Keadaan Ekonomi Masyarakat Desa Di Daerah Lahan Kering Kasus Gunungkidul”. (Laporan Penelitian, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, 1993/1994), hlm. 2

 

secara tegas, gambaran mengenai periodesasi itu dapat ditemui dalam pembahasan selanjutnya. Sedangkan cakupan spasial yang dipilih adalah Desa Nglegi dikarenakan merupakan wilayah sebagai objek penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah. Adapun langkah-langkah yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Penelitian sejarah mempunyai lima tahap yaitu pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi, analisis, sintesis, dan penulisan.4 Dalam penulisan penelitian ini kajian yang digunakan merupakan kajian historis dengan menggunakan sumber primer maupun sekunder. Adapun sumber-sumber baik primer maupun sekunder didapatkan dengan secara online baik dari koleksi pribadi maupun situs web yang tersedia. Beberapa situs web tersebut adalah seperti jurnal ugm.ac.id (Jurnal Online Universitas Gadjah Mada), scholar.google.com (Google Cendekia), maps.library.leiden.edu (perpustakaan peta Universiteit Leiden), delpher.nl (Nationale Koninklijk Bibliotheek van Nederland/ Perpustakaan Nasional Kerajaan Belanda), digitalcollections.universiteitleiden.nl (Perpustakaan online Universiteit Leiden) dan situs lainya yang diakses secara online. Langkah selanjutnya adalah verifikasi sejarah yaitu menyeleksi data-data yang diperoleh malaui kritik sumber, dengan demikian dapat diketahui bahwa data tersebut otentik atau data-data tersebut kredibel. Data-data tersebut kemudian diinterpretasikan untuk memperoleh fakta sejarah, fakta-fakta sejarah tersebut kemudian akan disusun sehingga tercipta tulisan berdasarkan kronologis.

Sistematis penulisan terdiri dari dua bagian yaitu historiografi dan catatan penelitian. Historiografi merupakan hasil penelitian (penelusuran awal) sedangkan catatan penelitian adalah hasil dan proses selanjutnya. Supaya penelitian dapat dikembangkan dan dilanjutkan. Dalam penulisan laporan penelitian ini banyak catatan dan kendala terutama sumber primer dan dengan kondisi PPKM yang terjadi di Indonesia dan terutama di DIY sehingga sumber-sumber yang di dapat dengan akses online. Penelitian ini hanyalah draf awal sekiranya penelitaian ini bisa dilanjutkan dikesempatan berikutnya.

Toponomi Desa Nglegi dan Sejarah Lisan

 

 

 

 
   

 

4 Kuntowijaya. Pengantar ilmu sejarah, Op.Cit., hlm 70

 

Nglegi berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat yaitu berasal dari kata legi yang berarti manis. Nama desa berasal dari cerita lisan yang berkembang dimasyarakat yaitu ada seorang punggawa dari Majapahit yaitu Prabu Brawijaya bersama para prajuritnya mengadakan perjalanan sesampainya di Desa Bunder Prabu Brawijaya menjumpai sebuah pohon sambi yang masih kecil bercabang 7 (tujuh) maka tempat itu dinamakan sambipitu setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke arah timur melewati dan kebetulan pada siang hari.Prabu Brawijaya dan pengikutnya mencari sumber mata air untuk mengatasi kehausan tetapi belum menemukan sumber mata air sehingga rombongan Prabu Brawijaya melanjutkan perjalanan kemudian tempat tersebut di sebut alas ngelak (haus), kemudian Prabu Brawijaya dan prajuritnya menemukan sumber mata air yaitu (belik dalam bahasa Jawa), Prabu Brawijaya memutuskan untuk beristirahat sambil meminum air tersebut dan terasa manis (legi dalam bahasa Jawa) sehingga dinamakan legi yaitu manis sehingga hingga saat ini di namakan Desa Nglegi.5

Lintas Sejarah Desa Nglegi

 

Dalam cerita yang berkembang dimasyarakat cikal bakal masyarakat Desa Nglegi berasal dari orang tiga bersaudara berasal dari Bungasan Klaten bernama :

  1. Malanggito;
  2. Malangjoyo; dan
  3.  

Ketiga orang tersebut salah satunya menjadi prajurit dikraton Ngayojokarto yaitu Malangjoyo yang menurunkan mbah Tarunorejo bersaudara. Sedangkan Malanggito menurunkan mbah Setro Ijoyo menjadi Lurah Nglegi dan seterusnya. Sedangkan Dremojoyo menurunkan mbah Saikoro kebawah yang sampai saat ini desa Nglegi telah berkembang dan berpenduduk sampai saat ini.6 Sejarah lisan yang berkembang di Desa Nglegi tidak bisa dipisahkan dari sejarah lisan yang berkembang di Desa Nglanggeran yang secara geografis berdekatan. Cerita lisan dalam pembentukan Desa Nglanggeran yang beredar dimasyarakat bahwa Manguntirto merupakan salah satu tokoh yang melakukan perlawanan kepada Belanda dan kemudian melakukan persembunyiannya di

 
   

 

5 Profil Desa Nglegi. Sejarah Desa, hlm 15

6 Profil Desa Nglegi. Opcit,hlm 15

 

suatu tempat yang dinamakan planggeran kemudian Manguntirto diangkat menjadi Bekel oleh pihak Keraton Ngayogjokarto. Banyak penduduk yang kemudian mengikutinya untuk menetap di sana.7

Manguntirto kemudian menikah dengan seorang gadis di Desa Nglegi yang dikaruniani dua anak yaitu laki-laki dan perempuan yang kemudian dari anak laki-laki tersebut meneruskan ayah nya menjadi kepala desa yang kemudian hari menjadi cikal-bakal  pemerintahan  dengan  nama  Desa Pelanggeran  dirubah  menjadi Desa Nglanggeran. Jadi untuk Desa Nglanggeran awal masa kepemimpinannya dimulai dari Sutodipo putra dari pendiri Desa Pelanggeran yaitu Manguntirto sedangkan istrinya dan anak perempuanya menetap di Desa Nglegi.8 Cerita lisan yang berkembang ini menguatkan indikasi bahwa tiga saudara yang merupakan cikal-bakal pendiri di masyarakat Desa Nglegi merupakan salah satu pengikut Manguntirto yang berjuang melawan Belanda dan keraton Solo, perlawanan tersebut dilakukan untuk menolak pembayaran pajak.

Secara struktur pemerintahan sipil Desa Nglegi baru ada setelah adanya reorganisasi pada tahun 1918 dalam Rijksblad van Sultanaat Djogjakarta. Walaupun demikian Desa Nglegi sudah eksis di arsip-arsip kolonial seperti dalam bentuk peta. Pemerintahan Desa Nglegi secara otonom sebagai sebuah desa baru muncul setelah reorganisasi desa tahun 1918 bersamaan dengan penghapusan bekel dan digantikan oleh kepala desa atau lurah dan semua aperaturnya.9Bahwa peduduk pedesaan antara tahun 1755-1918 dalam desa-desa tidak diatur dalam kesatuan pemerintahan. Sampai tahun 1918 penduduk desa hidup dalam masyarakat alamiah yaitu kelompok tempat tinggal. Namun demikian mereka tidak disusun menjadi satuan pemerintahan atau politik. Masyarakat pedesaan masa itu disebut “alamiah” sebab merupakan pengelompokkan alamiah petani Jawa yang tinggal berdekatan. Mereka membentuk masyarakat desa menurut  sistem  pemerintahan  negara.  Aturan-aturan  yang  berlaku  dikalangan

 
   

 

7 Heru Purwanto, “Sejarah dan Legenda Desa Nglanggeran”

8 Anonim, Tim Penggali Sejarah Desa Nglanggeran, “Sejarah Desa Nglanggeran” dalam https://www.nglanggeran-patuk.desa.id/first/artikel/57, diakses pada 23 Juli 2021. 9 Selo Soemardjan. Perubahan Sosial di Yogyakarta.( Jakarta: Komunitas Bambu,

2009).,hlm 34-35.                                                                                    .

 

masyarakat bersifat informal karena kepemimpinan bekel biasanya bersifat informal. Dalam Alphabetisch Resgister van De Administratieve (Bestuur) En Adatrechtelijke Indeeling van Nederlandsch-Indie (register administrasi kewilayahan dan klasifikasi hukum adat Hindia Belanda) yang menyebutkan bahwa Nglegi masuk sebagai institusi desa. Nglegi dalam arsip tersebut masuk dalam ke dalam Onderdsitrik Patoek, Distrik Plajen, Regentschap Gonoengkidoel.10

Nglegi muncul pertama kali dalam arsip peta kolonial yaitu pada tahun 1857 dengan nama Legi11 Dalam peta tersebut dusun-dusun yang menjadi nama wilayah Nglegi saat ini belum muncul. Pada tahun 1861 penyebutan nama Legi masih digunakan dalam peta-peta kolonial dan sudah mulai muncul dusun yang menjadi wilayh Desa Nglegi pada saat ini yaitu seperti Kembang, Wero.12 Perubahan nama dari Legi berubah menjadi Nglegi ditemukan pada peta Topografische Kaart Der Residentie Djokjakarta Yaitu pada tahun 1920 dalam data peta tersebut menyebutkan bahwa sudah mulai jelas batas dan dusun-dusun sudah mulai bermunculan seperti Kembang, Klepoe, Nglampar, Ngampoeh, Karang.13 Hal ini menguatkan bahwa Institusi Desa Nglegi sebagai desa otonom baru muncul setelah reorganisasi desa pada tahun 1918. Tahun 1944 dalam arsip peta colonial yang bernama Java and Madura. War and Navy Department Agrencies only not for sale distribution. Wonosari. Army map service U. S Army Wasingtton DC menyebutkan bahwa dusun-dusun yang saat ini menjadi wilayah Desa

 

 

 

 

 

 

 
   

 

10 Schoel, W.F., Alphabetisch Resgister van De Administratieve (Bestuur) En Adatrechtelijke Indeeling van Nederlandsch-Indie, Deel I: Java En Madura(Batavia: Landsdrukkerij, 1931), hlm 252.

11 W.F. Versteg, “Kart Van Residentie Djocjakarta Tezamengesteld”(Batavia: Van Haren Noman & Kolff, 1857).

12 K.F. Wilsen, “Topografische Kaart Der Residentie Djokjakarta” (Gravenhage: Topografisch Bureau, 1861).

13 Anonim. Opgenomen in de jare 1918-1919. Res Djokjakarta Blad XXX A. (Batavia: Topographische inricting, 1920).

 

Nglegi sudah mulai banyak bermunculan dan lebih lengkap seperti kembang, klepoe, Nglampar, Ngampoeh, Karang, Gedoro dan padangan.14

Pemerintahan Desa Nglegi setelah Kemerdekaan Indonesia

 

Dengan beralihnya pemerintahan dari kekuasaan kolonial Belanda ke Republik Indonesia terjadi perubahan dalam struktur pemerintahan tidak terkecuali Desa dengan adanya perubahan ini yaitu Nglegi yang dahulunya sebagai desa diganti dengan istilah kelurahan.15 hal ini tertuang dalam Maklumat Nomer 7 Tahun 1945, Nomer 14, 15, 16 dan 17 Tahun 1946, ditiap-tiap kalurahan di seluruh Daerah Istirnewa Yogyakarta terdapat tiga buah lembaga yaitu:

  1. Pamong Kaluraban, yang terdiri:

 

  1. Lurah

 

  1. Kepala bagian sosial (Kamitua).

 

  1. Kepala bagian kemakmuran (Ulu-ulu).

 

  1. Kepala bagian keamanan (Jagabaya atau Jagamiruda).

 

  1. Kepala bagian agama (Kaum).

 

  1. Kepala bagian umum (Carik).

 

Di bawah kepala bagian itu terdapat pembantu pamong. Pembantu pamong ini ada tiga macam yaitu: 1. Pembantu pamong yang bertugas membantu jawatan (bagian) tertentu; ini disebut pembantu jawatan. 2. Pembantu pamong yang bertugas membantu semua jawatan (bagian) dengan jalan memimpin dukuh tertentu, ini disebut kepala dukuh. Pada tahun 1948 di Yogyakarta terjadi perubahan yaitu dengan diterbitkan Maklumat No 5 tahun 1948 tentang perubahan-perubahan daerah kelurahan dan nama-

 

 
   

 

14 Java and Madura. War and Navy Department Agrencies only not for sale distribution. Wonosari. Army map service U. S Army Wasingtton DC, 1944).

15 Murniatmo, Gatut Pola Penguasaan, Pemilikan, dan Penggunaan Tanah Secara Tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta. (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1989), hlm 43.

 

namanya.16Dalam maklumat ini terjadi perubahan nama maupun penggabungan berbagai wilayah menjadi kelurahan namun tidak terjadi di Desa Nglegi yang mana namanya tetap disebut dengan Nglegi. Memasuki tahun 1987 terjadi perubahan nomenklatur di Daerah Istimewa Yogyakarta, perubahan tersebut merubah nama pemerintahan desa dengan organ-organnya. Nama kelurahan Nglegi semenjak itu dari Kelurahan Nglegi berubah menjadi Desa Nglegi dan sebagimana pamong-pamongnya. Hal tersebut sampai bertahan dengan dikeluarkan Pergub DIY Nomor 25 Tahun 2019 Tentang Pedoman Kelembagaan Urusan Keistimewaan Pada Pemerintah Kabupaten/Kota dan Kalurahan.

Dalam Pergub No.25 tahun 2019 nama Kelurahan beganti menjadi Kalurahan yang mana Kalurahan adalah sebutan desa di wilayah DIY yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang terdiri atas gabungan beberapa padukuhan yang mempunyai batas-batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri, berkedudukan langsung di bawah Kapanewon.17 Tidak hanya dalam kelembagaanya saja namun dalam unsur kelambagaannya pun terjadi perubahan nama, seperti sekertaris desa beganti nama menjadi carik yang memimpin pada sekertariatan desa serta melaksanakan penata usahaan berkaitan dengan kegiatan urusan Keistimewaan. Perubahan juga terjadi di berbagai pamong lainya seperti :

  1. Tata laksana, melaksanakan urusan tata usaha dan umum, dipimpin Kepala Urusan Tata Laksana.
  2. Danarta, melaksanakan urusan keuangan, dipimpin Kepala Urusan

 

  1. Pangripta, melaksanakan urusan perencanaan, dipimpin Kepala Urusan

 

  1. Keamanan yang merupakan sebutan dari Seksi Pemerintahan, dipimpin oleh

 

 

 

 
   

 

16 Maklumat no 5 tahun 1948 Pemerintahan Daerah Istimewa Negara Republik Indonesia Jogjakarta.

17 Muchamad Zaenuri, Muhammad Iqbal , Yunita Elianda. Tata Kelembagaan dan Nomenklatur Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta. Moderat, 7(1), 2021), hlm 124.

 

  1. Kemakmuran yang merupakan sebutan dari Seksi Kesejahteraan, dipimpin oleh Ulu-
  2. Sosial yang merupakan sebutan dari Seksi Pelayanan, dipimpin oleh

 

 

 

..Nama Lurah / Kepala yang pernah menjabat di Desa Nglegi yaitu18 :

  1. Setro Ijoyo
  2. Parto Diryo
  3. Cokro Sudiro
  4. Harjo Sudiro
  5. Sukedi
  6. Sardjono (1982 – 1991)
  7. Warsid (1991 - 2007)
  8. Aripin (2007 S/d 2018)
  9. Wasdiyanta ( 2019 s/d sekarang )

 

 

KESIMPULAN

 

Dari uraian diatas diambil beberapa kesimpulan seperti cikal bakal masyarakat Desa Nglegi berasal dari tiga saudara yang berasal dari Bungasan Klaten serta Desa Nglegi sudah eksis di sumber-sumber kolonial berupa peta pada akhir abad ke 19 dengan nama awal yaitu Legi kemudian terjadi ratifikasi pemerintahan dan terjadi perubahan-perubahan baik nama kalurahan maupun pamong-pamongnya. Melihat pemerintahan Desa Nglegi baru terinstitusi pada tahun 1918.

 

 

 

 

 

Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
  • Wasriyati
    Alkhamdulillah semoga bermanfaat dan berkah untuk ...baca selengkapnya
    09 Juni 2023 04:36:57 WIB
  • Siti Chotimah
    ...baca selengkapnya
    23 Februari 2021 13:38:24 WIB
  • suriani
    daftar...baca selengkapnya
    19 Januari 2021 15:40:07 WIB
  • Tumini
    Alhamdulillah .. smoga desa nglegi mkin maju trus ...baca selengkapnya
    15 November 2019 12:46:02 WIB
  • Riswanto
    Assalamu Alaikum wr.wb Mohon jalan dari desa Ngleg...baca selengkapnya
    14 Mei 2019 23:09:25 WIB
  • Wasriyati
    Alkhamdulilah terimakasih atas semua kontribusi un...baca selengkapnya
    14 Mei 2019 12:20:30 WIB
  • Wasriyati
    Alkhamdulilah terimakasih atas semua kontribusi un...baca selengkapnya
    14 Mei 2019 12:20:30 WIB

  • Safari tarweh kabupaten diundur tgl 21 Mei karena ...baca selengkapnya
    10 Mei 2019 11:11:57 WIB
  • Sudiyono
    Mari nanti kita saksikan TVRI shooting SID desa Ng...baca selengkapnya
    09 Januari 2019 10:44:50 WIB
  • Sudiyono
    Saya sangat bangga dengan kemajuan Desa Nglegi saa...baca selengkapnya
    09 Januari 2019 10:35:36 WIB
Galeri Foto
Data Kebudayaan Desa Nglegi
1. Rosulan, Nyadran, dan Ritus Pangan
     
NO

          

NAMA KEGIATAN

 

 WAKTU PELAKSANAAN

 KET

1 Rasul Desa Nglegi Senin, 19 Agustus 2019 -
Radio Persatuan Nglegi (PERSEGI)
Aparatur Pemerintah Desa Nglegi
            PERANGKAT DESA NGLEGI
     
NO

          

NAMA

 

 JABATAN

1 WASDIYANTA Lurah
2 KUNCORO KRESNO, S.Kom Carik
3 SURADI Jogoboyo
4 SUROYO, S.Sos.I Kamituwa
5 SUDIYONO Ulu - Ulu
6 ANA RACHMATUN Danarto
7 TRI MULYANI, A.Md Pangripto
8 RADIYO Tata Laksana
13 AYUS GUNTORO Dukuh Klepu
14 TRI SUHARTANTA Dukuh Trukan
15 SUGIMAN Dukuh Nglegi
16 TRI KARYADI Dukuh Nglampar
17 Nadya Ulfi Lazuardhani Dukuh Kembang
18 WARTONO Dukuh Gedoro
19 SUHARJONO Dukuh Padangan
20 Hermawan Susanto Dukuh Glagah
21 DEWI LESTARI Dukuh Karang
9 KARNOTO Staf
10 CIPTO YUWONO, S.IP Staf
11 SUPARTONO Staf
12 NUR SHOLIKIN Staf
12 ANNISA EKA RAHMAWATI Staf
12 DITA INDAHSARI Staf
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial